MERAPI AKAN TETAP AKTIF DI ZONA SEISMIK AKTIF

Oleh Daryono BMKG

De Boer dan Sanders (2002) dalam buku Volcanoes in Human History, menyebutkan bahwa hingga saat ini Merapi merupakan gunungapi paling aktif di dunia. Sejarah mencatat bahwa Merapi memang memiliki frekuensi erupsi paling sering jika dibandingkan dengan gunungapi aktif yang lain di dunia.

Menurut Badan Geologi, hingga tahun 2006 Merapi diperkirakan sudah mengalami erupsi besar yang tercatat sebanyak 83 kali. Rata-rata selang waktu erupsi Merapi periode pendek terjadi antara 2 hingga 5 tahun, sedangkan selang waktu erupsi periode menengah terjadi setiap 5 hingga 7 tahun. Namun demikian, Merapi juga pernah mengalami masa istirahat panjang selama lebih dari 30 tahun terutama pada masa awal pembentukannya. Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini terlihat waktu istirahat terpanjang Merapi pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai dengan tahun 1658.

Jika kita perhatikan peta tektonik ternyata jalur tunjaman lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Pulau Jawa, sehingga sebaran episentrum gempabumi banyak terdapat di Daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Di zona ini dalam kerangka tektonik, selain terdapat jalur tunjaman Palung Jawa juga terdapat sebaran sesar-sesar lokal, seperti Sesar Opak, Sesar Progo, Sesar Dengkeng, Sesar Oya dan masih banyak lagi sistem sesar yang belum dikenali.

Dengan kondisi tataan tektonik yang begitu kompleks, Daerah Yogyakarta dan sekitarnya telah menjadi salah satu kawasan seismik aktif dengan tingkat frekuensi kegempaan yang sangat tinggi di Indonesia. Daerah Yogyakarta disamping sangat rawan gempabumi akibat aktivitas tumbukan lempeng di Samudera Indonesia juga sangat rawan gempabumi akibat aktivitas sesar-sesar aktif di daratan. Di zona seismik aktif dan kompleks inilah Gunungapi Merapi tumbuh dan berkembang menjadi gunungapi yang sangat aktif.

Tingginya tingkat aktivitas gempabumi tektonik di sekitar Merapi tercermin dari frekuensi gempabumi kuat yang seringkali mengguncang Daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagai gambaran tingginya aktivitas seismik, dalam rentang waktu hanya 3 bulan sebelum erupsi saat ini, telah tercatat  6 kali peristiwa gempabumi tektonik yaitu Gempabumi Yogyakarta tanggal 21 Agustus 2010 (M 5,0 SR), 3 September 2010 (M 5.0 SR), 11Oktober 2010 (M 3.9 SR), 28 Oktober 2010 (M 4.0 SR), dan 28 Oktober 2010 (M 3,2 SR). Seluruh peristiwa gempabumi ini memiliki episetrum di selatan Merapi tepatnya di sebelah timur Sesar Opak. Selain gempabumi yang bersumber di selatan Merapi, juga terdapat peristiwa gempabumi di utara Merapi, yaitu Gempabumi Magelang tanggal 2 September  (M 3,1 SR). Gempabumi ini dirasakan hingga Salatiga, Ambarawa, Banyubiru dan Ungaran.

Berdasarkan catatan sejarah kegempaan Jawa, daerah Yogyakarta memang sering mengalami gempabumi merusak dan dirasakan hingga beberapa kali, yaitu pada tahun 1840 (terjadi tsunami), 1859 (terjadi tsunami), 1867 (5 orang tewas, 372 rumah roboh), 1875 (V-VII MMI, terjadi kerusakan di Bantul), 1937 (VII-IX MMI, 2.200 rumah roboh), 1943 (250 orang tewas, 28.000 rumah roboh), 1957 (VI MMI), 1981 (VII MMI, terjadi kerusakan di Bantul), 1992 (V MMI), 2001 (V MMI), 2004 (V MMI), dan 2006 (VII-IX MMI, 6.000 orang tewas). Dari seluruh peristiwa gempabumi ini seluruhnya memiliki episentrum yang relatif berdekatan dengan Merapi. Jika menilik waktu terjadinya gempabumi, diantaranya memang bersamaan dengan waktu meningkatnya aktivitas Merapi.

Meningkatnya kegiatan erupsi Merapi merupakan bagian dari  rangkaian kegiatan tektonik. Menurut teori tektonik global, seluruh peristiwa kebumian di atas dapat dijelaskan. Permukaan bumi ini tersusun atas beberapa lempeng tektonik, baik lempeng samudera maupun lempeng benua. Pada batas pertemuan lempeng ini sarat dengan cerminan peristiwa tektonik: jalur gunungapi, sesar aktif, dan sebaran episentrum gempabumi. Begitu juga dengan terjadinya peristiwa kebumian di Daerah Yogyakarta, dimana pelepasan stress batuan secara tiba-tiba di bidang kontak antar lempeng dan zona sesar menyebabkan gempabumi. Tingginya tingkat seismisitas di sekitar Merapi yang sedemikian rupa telah menyebabkan perubahan massa kerak bumi bawah permukaan dalam pengaruh panas hingga mampu menggiatkan aktivitas Merapi.

Jika aktivitas vulkanisme merupakan bagian rangkaian kegiatan tektonik, maka kita dapat mengatakan bahwa tingginya aktivitas Merapi tidak lepas dari pengaruh tingginya kegiatan seismik di zona ini. Data seismisitas bulanan dan catatan sejarah kegempaan Yogyakarta di atas kiranya sudah cukup mebuktikannya. Keberadaan dapur magma Merapi yang berdekatan dengan zona-zona sumber gempabumi, menyebabkan fluida di dapur magma Merapi menjadi labil karena terus menerus mendapatkan pukulan dan tekanan dari getaran gempabumi yang kerap kali terjadi dari pusat-pusat gempabumi di sekitarnya. Magma yang secara terus menerus mendapat tekanan ini akan menyebabkan dapur magma menjadi penuh dan bergerak naik. Magma baru yang naik ke permukaan ini akan memicu lebih banyak lagi magma yang naik ke atas sehingga Merapi menjadi kian aktif. Berdasarkan beberapa hal tersebut akhirnya dapat kita simpulkan bahwa tingginya tingkat aktivitas Merapi salah satunya adalah disebabkan oleh karena lokasinya yang terletak di zona seismik aktif  dan sering terjadi gempabumi. Melihat fakta tektonik dan seismisitas Yogyakarta yang sedemikian rupa, maka hingga sampai kapanpun Merapi akan tetap menjadi gunungapi paling aktif di dunia.***

Sumber : bmkg.go.id

About Bang_Pandi

Ahmad Yuli Afandi

Posted on 3 November 2010, in Wawasan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: